Saat Anda bekerja, Anda memenuhi/sebagian dari mimpi bumi yang paling disukai/yang ditugaskan kepada Anda saat mimpi itu dilahirkan (Kahlil Gibran).
Darma seorang karyawan sejatinya sederhana saja, mendukung perusahaan dengan komitmen. Karyawan yang memiliki komitmen terhadap pekerjaan bisa menjiwai pekerjaannya. Mereka bekerja dengan pikiran dan hati. Karena itu, mereka menikmati pekerjaan. Mereka memandang pekerjaan bukan sebagai beban dan kewajiban, tetapi sarana berkarya dan mengembangkan diri. Tak ayal, orang-orang yang berkomitmen terhadap pekerjaannya dapat mencapai kepuasan kerja alias job satisfaction.
Komitmen, menurut Arvan Pradiansyah, adalah bentuk keterlibatan karyawan tertinggi dalam perusahaan. Ia mengingatkan, manajemen jangan terkecoh melihat kepatuhan karyawan sebagai bentuk komitmen. Pasalnya, fisik perilaku yang ditampilkan karyawan patuh dan karyawan berkomitmen, nyaris sama. "Padahal, hakikatnya sangat berbeda," katanya. Karyawan yang patuh bekerja bak robot, hanya dengan tangan dan kakinya. Sementara itu, karyawan berkomitmen bekerja bukan karena disuruh. Mereka termotivasi bukan oleh faktor eksternal, melainkan faktor internal. "Sumber motivasinya dari dalam," ungkap pengamat SDM dari Franklin Covey/PT Dunamis Intermaster ini.
Untuk membangun komitmen karyawan, ia menyarankan agar perusahaan memahami karakteristik karyawan, dan mengetahui kebutuhan mereka. Setiap karyawan memiliki kebutuhan fisik (seperti penghasilan yang memadai), sosial emosional (lingkungan pergaulan dan budaya perusahaan yang sesuai dengan budaya personal), mental (kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri), dan spiritual (melakukan pekerjaan yang meaningful).
Dari empat macam kebutuhan tersebut, menurut Arvan, setiap karyawan memiliki penekanan pada kebutuhan yang berbeda-beda. Ada yang lebih ke aspek fisik, sosial emosional, mental ataupun spiritual. Juga, bisa gabungan dari aspek-aspek tadi. Selain memahami karyawan, perusahaan juga harus melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut pekerjaan karyawan, maupun bisnis secara keseluruhan. Maka, paradigma perusahaan harus diubah. Asumsinya, menjadi those closest to the job knows it best -- orang yang paling dekat dengan pekerjaanlah yang paling tahu seluk-beluk pekerjaan itu.
Komitmen tidak mungkin tercipta, kalau tidak ada kepercayaan (trust) antara manajemen dan karyawan. Komitmen juga tidak akan tercapai, kalau manajemen tidak memahami apa yang diinginkan karyawan, termasuk keinginan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Untuk bisa menciptakan komitmen dan kepercayaan, tentunya, diperlukan komunikasi yang baik. Karena itu, karyawan dan manajemen harus mau duduk bersama, dan saling menyelaraskan paradigma masing-masing. "Dalam hal ini, kemampuan saling mendengarkan kunci utamanya," ia menegaskan.
Komitmen harus dibangun dari dua arah: Dari karyawan maupun perusahaan. Dalam bahasa Senior Consultan Hewitt Iwan Prajogi, tingkat keterikatan pegawai ke perusahaan, didefinisi sebagai engagement. Tingkat keterlibatan atau komitmen intelektual dan emosional karyawan terhadap perusahaan atau organisasinya, itulah engagement. "Konsep ini merupakan pengembangan konsep kepuasan (satisfaction) dan komitmen (commitment)," ia menandaskan.
Menurutnya, karyawan yang engaged akan memiliki tingkat produktivitas tinggi, inovatif dan tanggung jawab tinggi atas kinerja perusahaan. Hal ini pada akhirnya menciptakan keunggulan kompetisi perusahaan.
Ada tiga karakteristik utama ditunjukkan karyawan yang engaged, yakni dengan 3 S (stay, say, strive). Maksudnya, karyawan memiliki keinginan besar tetap tinggal di perusahaan (stay); karyawan secara antusias merekomendasi positif mengenai perusahaan mereka ke calon pegawai maupun para pelanggan (say); karyawan bersedia berkontribusi maksimal untuk kemajuan perusahaan (strive).
Untuk dapat meningkatkan engagement karyawan, perusahaan mesti memperhatikan seluruh faktor engagement di atas. Manajemen perusahaan harus dapat mengidentifikasi faktor mana yang berpengaruh terbesar terhadap tingkat engagement karyawan secara keseluruhan. Juga, perusahaan harus memahami hubungan antarfaktor. Contohnya, faktor hubungan kerja dapat memengaruhi tingkat engagement dengan dua cara, secara langsung dan tidak langsung, melalui faktor kesempatan.
Sayangnya, kerap tak terjadi kesepakatan komitmen antara perusahaan dan karyawan. Penyebabnya, ditengarai Iwan, perusahaan gagal mengidentifikasi faktor krusial yang dapat memengaruhi tingkat engagement karyawan. Solusinya, memperbaiki komunikasi antara manajemen dan karyawan. Dengan komunikasi dua arah -- salah satunya dapat difasilitasi dengan pengadaan survei kepuasan karyawan -- diharapkan perusahaan dapat memahami kebutuhan karyawan.
Hal lain yang dapat pula meghambat tercapainya komitmen, menurutnya, tidak adanya mekanisme jelas dalam mengomunikasi arah dan tujuan perusahaan. "Apa yang diharapkan perusahaan dari karyawannya, tidak pernah dikomunikasi," tandasnya. Tidak adanya sistem yang jelas soal pengaturan imbal jasa -- antara lain, gaji -- atas apa yang telah diraih karyawan, juga menjadi penghambat tumbuhnya komitmen. Dengan menerapkan Sistem Manajemen Kinerja (Performance Management System) yang komprehensif, ia yakin, hal itu bisa mengatasi tersumbatnya komitmen karyawan. Taufik Hidayat dan Henni T. Soelaeman